Resah dan gelisah merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Setiap orang, siapapun ia, pernah diserang gelisah. Namun satu hal yang perlu diingat bahwa resah dan gelisah yang berkelanjutan sangat berbahaya. Orang yang gelisah akan diserang oleh rasa tidak percaya diri. Kecemasan dan kegelisahan memang dapat melanda siapa saja dari anak kecil sampai orang dewasa, baik rakyat biasa maupun sampai pemuka. Yang menimbulkan pertanyaan dalam hati kecil kita ''Kok orang beriman dapat mengalami kegelisahan? Orang beriman harus bisa mengendalikan dari berbagai macam perasaan takut berlebihan, apakah perasaan takut miskin, mati, tak mendapat jodoh, apakah takut sebentar lagi akan datang masa pensiunnya, yang dulu tanda tangannya berlaku dan berpengaruh setelah itu tidak lagi, dan berbagai jenis ketakutan yang tidak pada tempatnya.
Di sini kita jawab bahwa iman adalah suatu terminotif yang dipakai dalam Islam. Istilah psikologi iman itu dapat dikatakan sebagai sesuatu yang mampu mengintegrasikan pribadi seseorang sehingga ia tumbuh jadi manusia ''dewasa'' dan ''sehat'' nah itulah aqidah Islam sumber keimanan. Akan halnya kaitan dengan keimanan, bukan berarti orang yang beriman tidak merasakan kegelisahan, tapi (orang beriman itu) harus mampu mengatasi dan mengelola kegelisahan menjadi sesuatu yang positif. Seseorang sebelum menghadapi pensiun 10 tahun sebelumnya ia sudah membuat rencana, misalnya berwiraswasta, sehingga apabila datang masa pensiun ia mampu mengelola segala problemanya, bahkan tetap sukses. Orang yang benar-benar keimanannya kepada Allah segalanya mengarahkan kehidupannya sehari-hari kepada Allah seperti firman Allah swt ''Yang beriman dan tenteram hatinya lantaran ingat kepada Allah, ketahuilah dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (QS 13:28).
Mari kita mempelajari Islam dari sumber aslinya yaitu Alquran dan Sunah dengan sasaran marifah (mengenal) Allah, Islam, dan Rasul. Memperkuat hubungan dengan Allah caranya, memperbanyak ibadah dan zikir. Setelah memperkukuh iman, jauhkan maksiat, hadapi segala masalah yang datang sebagai objek, jangan libatkan diri dalam masalah sehingga kita terlarut dalam persoalan dan merasa tak mampu mengatasi masalah. Sadarilah bahwa setiap masalah yang datang dapat kita hadapi, tentu saja dengan izin Allah seperti firmannya: ''Allah tidak akan membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya....'' (QS 2:286). Mari kita cari yang mengakibatkan munculnya kegelisahan, apakah sebab internal atau sebab eksternal. Jika sebab internal yang menjadi pangkal tentu kita harus memperbaiki diri, jika sebab eksternal kita harus berusaha menyesuaikan persoalan tersebut, kita harus mengidentifikasikan penyebab masalah. Yang kedua mengidentifikasikan kemampuan yang ada pada kita untuk mengatasi masalah tersebut dan terakkhir mencari bantuan untuk menyelesaikan masalah dan mengatasi penghambat selesainya suatu masalah. Lantas bagaimana masalah yang benar-benar tidak diatasi lagi? Tidak ada cara lain kecuali menerima keadaan yang sifatnya sabar dan tawakal kepada Allah! -- ahi
Minggu, 09 Juni 2013
Artikel Manusia dan Kegelisahan
Pengusaha Warteg Gelisah Harga Bawang Merah & Putih Melonjak Tinggi
SPC, Jakarta – Setelah bawang putih, kini giliran bawang merah yang membuat masyarakat gelisah. Harga bawang merah melonjak hingga lebih dari 50%.
Harga bawang merah yang dulu sekitar Rp 18 ribu per kilogram (kg) naik menjadi sekitar Rp 60 ribu per kg.
Salah satu yang terkena imbas adalah pedagang makanan alias warteg di Jakarta. Berdasarkan pantauan Liputan6.com, sejumlah pedagang mengeluh berat dengan kenaikan harga bawang tersebut karena mereka tidak mungkin menaikkan harga.
Warniti (52), pedagang warteg di Warakas, Jakarta Utara, mengatakan belum akan menaikkan harga dagangannya, sampai semua bahan pokok naik.
“Sekarang harganya (yang dijual di warteg) masih sama. Nanti kalau semua udah naik, mau tidak mau kita ikut naik juga,” kata dia, Rabu (13/3/2013).
Warniti mengakui harga sejumlah komoditas yang biasa dibelinya di Pasar Pelita, juga Pasar Sungai Bambu naik drastis, terutama bawang merah dan bawang putih.
Annisa (35), pedagang warteg lainnya, juga mengaku belum menaikkan harga dagangannya meski bawang merah mencapai Rp 50 ribu per kg.
“Tidak kita naikin, masih sama. Kasihan, yang banyak makan di sini kan tukang-tukang ojek gitu. Cuma kita kurangin aja takarannya (bumbu dasar),” kata Annisa.
Dia mengakui meski dirinya mengurangi takaran, pelanggan yang datang ke warteg miliknya tetap tak berkurang.
Senada dengan yang Annisa, Sumiah (55), juga masih bimbang menaikkan harga dagangannya. “Bingung juga kalau mau menaikkan harga tidak tega apalagi kalau yang beli anak kos,” kata Sumiah yang mengaku baru saja membeli bawang putih dengan harga Rp 60 ribu per kg.
Selain bawang putih, Sumiah mengakui jika harga bawang merah juga membuat keuntungannya turun. Saat ini harga 1/2 kg bawang merah sudah mencapai Rp 28 ribu.
Sumiah berharap pemerintah bisa segera memberikan solusi atas lonjakan harga ini. Ia khawatir jika tidak segera diurus, harga bawang menyentuh Rp 100 ribu per kg.
“Kita sih berharap ada bantuan impor bawang. Denger-denger di Pontianak, bawang impor sudah masuk,” harap dia. (SPC-20/liputan6).
Opini :
Tak hanya bawang putih, sekarang giliran harga bawang merah pun ikut naik. Hal ini pastinya membuat masyarakat resah, terutama kaum pedagang. Kenaikan harga bawang merah yang sangat tinggi lah yang membuat para pedagang gelisah. Pasalnya harga bawang merah yang dulu sekitar Rp 18/kg naik menjadi sekitar Rp 60/kg. Tentunya hal ini sangat membuat bingung para pedagang karena mereka tidak mungkin menaikkan harga.
"Pembatasan impor", mungkin hal inilah yang menjadi penyebab salah satunya kenaikan harga bawang. Saya harap pemerintah dapat segera memberikan solusi yang tepat, agar para pedagang dan juga masyarakat tidak lagi resah akan kenaikan harga bawang yang menggila ini.
"Pembatasan impor", mungkin hal inilah yang menjadi penyebab salah satunya kenaikan harga bawang. Saya harap pemerintah dapat segera memberikan solusi yang tepat, agar para pedagang dan juga masyarakat tidak lagi resah akan kenaikan harga bawang yang menggila ini.
Manusia dan Tanggung Jawab
Tanggung jawab adalah sifat terpuji yang mendasar dalam diri manusia. Selaras dengan fitrah. Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal. Setiap individu memiliki sifat ini. Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung jawab. Inilah yang menyebabkan frekwensi tanggung jawab masing-masing individu berbeda.
Tanggung jawab mempunyai kaitan yang sangat erat dengan perasaan. Yang kami maksud adalah perasaan nurani kita, hati kita, yang mempunyai pengaruh besar dalam mengarahkan sikap kita menuju hal positif. Nabi bersabda: "Mintalah petunjuk pada hati (nurani)mu."
Dalam wacana keislaman, tanggung jawab adalah tanggung jawab personal. Seorang muslim tidak akan dibebani tanggung jawab orang lain. Allah berfirman: "Setiap jiwa adalah barang gadai bagi apa yang ia kerjakan." Dan setiap pojok dari ruang kehidupan tidak akan lepas dari tanggung jawab. Kullukum râ'in wa kullukum mas'ûlun 'an Ro‘iyyatih.....
Tanggung jawab bisa dikelompokkan dalam dua hal. Pertama, tanggung jawab individu terhadap dirinya pribadi. Dia harus bertanggung jawab terhadap akal(pikiran)nya, ilmu, raga, harta, waktu, dan kehidupannya secara umum. Rasulullah bersabda: "Bani Adam tidak akan lepas dari empat pertanyaan (pada hari kiamat nanti); Tentang umur, untuk apa ia habiskan; Tentang masa muda, bagaimana ia pergunakan; Tentang harta, dari mana ia peroleh dan untuk apa ia gunakan; Tentang ilmu, untuk apa ia amalkan."
Kedua, tanggung jawab manusia kepada orang lain dan lingkungan (sosial) di mana ia hidup. Kita ketahui bersama bahwa manusia adalah makhluq yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya untuk pengembangan dirinya. Dengan kata lain, ia mempunyai kewajiban-kewajiban moral terhadap lingkungan sosialnya. Kewajiban sangat erat kaitannya dengan eksistensi seseorang sebagai bagian dari masyarakat. Kita sadar bahwa kalau kita tidak melaksanakan tanggung jawab terhadap orang lain, tidak pantas bagi kita menuntut orang lain untuk bertanggung jawab pada kita. Kalau kita tidak berlaku adil pada orang lain, jangan harap orang lain akan berbuat adil pada kita.
Ada sebagian orang yang berkata bahwa kesalahan-kesalahan yang ia lakukan adalah takdir yang telah ditentukan Tuhan kepadanya. Dan dia tidak bisa menolaknya. Satu misal sejarah; suatu ketika di masa Umar bin Khattab, seorang pencuri tertangkap dan kemudian dibawa ke hadapan khalifah. Beliau bertanya: "Mengapa kamu mencuri?", pencuri itu menjawab "Ini adalah takdir. Saya tidak bisa menolaknya." Khalifah Umar kemudian menyuruh sahabat-sahabat untuk menjilidnya 30 kali. Para sahabat heran dan bertanya "Mengapa dijilid? bukankah itu menyalahi aturan?" Khlaifah menjawab "Karena ia telah berdusta kepada Allah."
Seorang muslim tidak boleh melepas tangan (menghindar dari tanggung jawab) dengan beralasan bahwa kesalahan yang ia kerjakan adalah takdir yang ditentukan Allah kepadanya. Tanggung jawab tetap harus ditegakkan. Allah hanya menentukan suratan ulisan) tentang apa yang akan dikerjakan manusia berdasarkan keinginan mereka yang merdeka, tidak ada paksaan. Dari sinilah manusia dituntut untuk bertanggung jawab terhadap apa yang ia lakukan. Mulai dari hal yang sangat kecil sampai yang paling besar. "Barang siap yang berbuat kebaikan, walau sebesar biji atom, dia akan melihatnya. Dan barang siapa yang berbuat kejelekan, walau sebesar biji atom, maka ia akan melihatnya pula" (al Zalzalah 7-8).
Artikel Manusia dan Tanggung Jawab
Kadis Kominfo : Masalah Narkoba, Tanggung Jawab Pemerintah dan Masyarakat
BANDUNG: Penanganan masalah penyalahgunaan Narkoba, bukan saja tanggung jawab Pemerintah tapi juga masyarakat. Tidak mungkin permasalahan itu teratasi tanpa bantuan masyarakat.
Sebab, pihak masyarakat adalah yang terdekat dengan sering terjadinya tindak penyalahgunaan narkoba. Hal demikian dikemukakan Kadis Kominfo Prov. Jabar ,Herli Suherli, pada acara forum komunikasi antar Pemerintah Provinsi dengan Pemkab/ko se-Jawa Barat, Selasa (14/7) bertempat di Aula Lt.IVDinas Kominfo Prov. Jabar, Jl. Tamansari 55 bandung.
Menurut Kadiskominfo, Herli Suherli,bahwa Indonesia saat ini bukan saja menjadi kawasan transit peredaran narkoba, tapi juga sudah menjadi daerah tujuan dan sebagai tempat produksi narkoba. Oleh karena itu tidak heran, banyak dijumpai berbagai kasus penyalahgunaan narkoba yang seolah tiada hentinya. “Kita pun sudah menjadi tempat produksi narkoba”, yaitu dengan ditemukannya beberapa pabrik pembuatan shabu-shabu di daerah Tangerang.
Peran masyarakat sangat penting dalam memperkecil peredaran narkoba,karena dilingkungan masyarakat tempat beredarnya narkoba. Masyarakat harus pekadan proaktif dalam mencegah dan mendeteksi perdaran narkoba, demikianHerli Suherli.
Acara forum ini diikuti sekitar 75 orang peserta dari dinas/badan yang bertanggung jawab dalam penanganan narkoba di Kabupaten/Kota se-Jawa Barat. Akan berlangsung satu hari dan diharapkan memunculkan kesepakatan sebagai pegangan dalam operasional di lapangan. (**)
Opini :
Sudah seharusnya kita sebagai masyarakat turut aktif dalam penyalahgunaan narkoba yang sudah mewabah setiap harinya. Khususnya pelajar yang sangat rentan akan barang haram ini, harusnya lebih waspada dan siaga turut memberantas narkoba. Mengingat Indonesia kini sudah menjadi ladang produksi narkoba.
Saya melihat upaya pemerintah dalam kasus ini sudah cukup maksimal. Tentunya peran kita sebagai masyarakat akan sangat membantu jika kita ingin bersama memberantasnya.
Saya harap masyarakat bersama dengan dapat berperan aktif dalam kasus penyalahgunaan narkoba, karena kita tidak ingin generasi kita dan selanjutnya rusak karena perkara ini.
Sumber
Langganan:
Komentar (Atom)