Sabtu, 05 Juli 2014

Masyarakat Indonesia mulai pesimis nilai kinerja ekonomi



Merdeka.com - Bank Indonesia (BI) mencatat survei konsumen pada Juni 2014 menunjukkan keyakinan konsumen yang sedikit melemah dibandingkan bulan sebelumnya. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juni 2014 tercatat sebesar 116,3, sedikit lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 116,9.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara mengatakan pelemahan tersebut didorong menurunnya persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dibandingkan dengan kondisi ekonomi 6 bulan yang lalu.
"Secara triwulanan, rata-rata IKK Triwulan II-2014 sebesar 115,7, lebih rendah dibandingkan 117,0 pada Triwulan I-2014," ujarnya dalam keterbukaan informasi BI, Jakarta, Jumat (4/7).
Hasil survei menunjukkan bahwa konsumen memperkirakan tekanan kenaikan harga akan berkurang pada 3 bulan mendatang (September 2014). "Hal tersebut ditengarai seiring dengan kembali normalnya permintaan dan pasokan barang pasca hari raya Idul Fitri."
Tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang (Desember 2014) diperkirakan mengalami peningkatan didorong oleh meningkatnya permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru serta penurunan subsidi Pemerintah untuk tarif tenaga listrik.
[arr]

Presiden Baru Harus Berani Berantas Mafia Ekonomi, Mulai Sapi Hingga Kedelai



Jakarta -Mantan ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Sutrisno Iwantono, menegaskan pemerintahan baru harus tegas dan berani dalam memberantas praktik mafia ekonomi. Mafia ini bisa ada di sektor pangan maupun non pangan.

"Indikasi yang memungkinkan terjadinya praktik mafia adalah pelaku yang terbatas. Pasarnya menjadi oligopolistik, sehingga bisa melakukan kolusi," tegas Iwantono kepada detikFinance, Sabtu (5/7/2014).

Iwantono mengatakan, dalam pasar yang oligopolistik tidak ada namanya transparansi. "Kita tidak tahu barang itu ada di mana sehingga harganya mudah dimainkan," ujarnya.

Iwantono mencontohkan kasus impor daging sapi. Menurutnya, importir komoditas ini tidak banyak. Negara pemasoknya pun terbatas yaitu Australia atau Selandia Baru.

"Importir ini jadi penguasa pasar. Mereka membunuh pesaing-pesaingnya, yang notabene peternak kecil. Ketika ada pemain baru yang masuk, mereka gelontorkan stok ke pasar sehingga harga drop. Begitu pemain baru ini tidak bisa bertahan, mereka menaikkan harga," papar Iwantono, yang juga menjabat sebagai Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).

Tidak hanya untuk daging sapi, Iwantono mengungkapkan adanya praktik mafia juga terindikasi ada di impor komoditas lainnya seperti beras, gula, atau kedelai. "Pemainnya sangat terbatas, sementara konsumennya banyak sekali. Sulit bagi pemain baru untuk masuk," tuturnya.

Pemerintahan baru, menurut Iwantono, harus berani untuk memberantas praktik-praktik seperti ini. Caranya adalah dengan membuat pasar menjadi transparan.

Supaya pasar lebih transparan, harus lebih banyak pelaku yang masuk di bisnis tersebut. "Jadi, kuncinya adalah mudahkan perizinan, potong birokrasi. Dengan begitu pelaku usahanya akan semakin banyak, terbentuk persaingan sempurna, dan tidak bisa sembarangan memainkan harga," jelas Iwantono.

Selain membentuk pasar yang lebih transparan, penegakan hukum juga sangat penting untuk memberantas para mafia ekonomi. "Waktu saya menjadi ketua KPPU, penah mendapat kasus izin impor yang sama bisa dipakai berkali-kali. Penegakan hukum menjadi sangat penting," katanya.

Oleh karena itu, Iwantono berharap dalam debat calon presiden malam ini tentang pangan dan energi akan muncul komitmen politik untuk memberantas praktik mafia. "Pak JK (Jusuf Kalla) sudah pernah menyatakan ini. Namun harus ditegaskan lagi, supaya menjadi komitmen politik dan kami akan tagih nanti," ucapnya.
(hds/rrd) 

Sumber

Warga Brasil Yakin Piala Dunia Ganggu Ekonomi Negara



Liputan6.com, Rio De Janeiro - Menjelang pertandingan melawan Kolumbia, masyarakat Brasil sangat yakin tim nasionalnya dapat menembus jajaran empat besar Piala Dunia 2014. Di saat bersamaan, penduduk Brasil juga yakin, ajang tersebut dapat menggoyahkan perekonomian Brasil.

Mengutip laman gallup.com, Sabtu (5/7/2014), sekitar 55 persen warga Brasil memprediksi perhelatan akbar itu dapat mengganggu perekonomian Brasil. Sebaliknya, sebanyak 31 persen warga Brasil yakin pesta bola dunia itu mampu menopang perekonomian negaranya.

Sementara itu, dari survei yang digelar lembaga riset global, Gallup itu, sebanyak lima persen warga Brasil mengaku Piala Dunia tak akan mempengaruhi ekonomi nasional. Sisanya mengaku tidak tahu apa-apa mengenai perekonomian negara.

Pemerintah Brasil secara resmi menyatakan, perannya sebagai tuan rumah Piala Dunia mampu menambah satu juta lowongan pekerjaan. Tetapi sayangnya, kondisi pasar tenaga kerja membuatnya tampak tidak mungkin.

Sebagian besar masyarakat Brasil mengatakan, ini merupakan waktu yang buruk untuk mencari pekerjaan. Bahkan warga Brasil menyatakan keraguannya, bahwa Piala Dunia dapat mencetak pekerjaan tepat bagi karyawan.

Lebih dari itu, pada Mei Brasil tercatat menciptakan lowongan kerja dengan jumlah terendah dalam dua puluh tahun terakhir. Tak heran, masyarakat terus merasa kian pesimis terhadap pergerakan ekonomi Brasil. (Sis/Ndw)

(Nurseffi Dwi Wahyuni)


Irman: Bayangkan Ekonomi Indonesia bila Korupsi Tak Ada...


BENGKULU, KOMPAS.com - Ekonomi Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan positif meskipun ada banyak kasus korupsi terjadi. Kinerja tersebut seharusnya bisa lebih baik lagi bila korupsi tak ada.

"Bayangkan, korupsi merajalela tapi perekonomian Indonesia tetap baik. Bagaimana jika angka korupsi berkurang?" ungkap Ketua Dewan Perwakilan Daera, Irman Gusman, di Bengkulu, Jumat (4/7/2014). Dia berpendapat kinerja perekonomian Indonesia akan semakin membaik bila penanganan korupsi bisa dipertajam lagi. 

Saat ini, sebut Irman, Indonesia masuk jajaran 15 besar negara dengan Gross Domestic Product sebesar Rp 1.300 triliun. Di kawasan regional ASEAN, imbuh dia, Indonesia berada pada posisi kelima di bawah Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. 

Namun, Indonesia kini hanya ada di bawah China bila disandingkan dengan kelompok negara BRIC, alias Brasil, Rusia, India, dan China. Kelompok negara-negara ini sempat diperkirakan menjadi kekuatan ekonomi baru selain Uni Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang.

Irman sebelumnya menyatakan masalah kesenjangan adalah tantangan utama bagi siapa pun presiden terpilih. Dia menyebutkan saat ini ada lebih dari 28 juta orang masuk kategori orang miskin di Indonesia. Kesenjangan pun terasa antara wilayah barat dan timur Indonesia.

Sumber