Dampak Pemilu, Konsumsi Rokok Meningkat

Jakarta -Pesta demokrasi 5 tahunan di Indonesia selalu membawa efek ekonomi. Salah satu yang mendapat berkah di tahun politik ini adalah penerimaan cukai rokok, yang mengalami peningkatan.
"Tahun ini tahun politik, ada dua hajatan besar, Pileg dan Pilpres. Kecenderungan pola 5 tahunan ini, konsumsi rokok cukup tinggi dan kita harapkan akan mempertinggi volume produksinya," kata Direktur Penerimaan dan Peraturan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Susiwijono di di Pangkalan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tanjung Priok, Selasa (15/4/2014).
Susiwijono menjelaskan tahun lalu produksi rokok sudah sangat tinggi yaitu mencapai 341 miliar batang. Pada 2014, produksi rokok diperkirakan lebih tinggi lagi.
"Tahun ini diperkirakan 360-362 miliar batang, itu jauh lebih tinggi lagi dari tahun sebelumnya," ungkapnya.
Ditjen Bea Cukai, lanjut Susiwijono, melihat dari efek penerimaan negara sehingga ada dampak positif. Meski demikian, dirinya pun menyadari dampak negatif dari peningkatan konsumsi rokok yaitu penurunan kualitas kesehatan.
"Kalau dari sisi penerimaan, saya optimistis volume produksi cukai akan naik tinggi. Kami menghitung sebesar Rp 116,3 triliun, tetapi dengan kondisi seperti ini target Rp 117,2 triliun bisa tercapai," tutur Susiwijono.
Pada Februari 2014, penerimaan cukai rokok sudah sebesar Rp 13,5 triliun. Nilai tersebut melebihi bulan sebelumnya yaitu Rp 8,5 triliun.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan Pemilu memang mendongrak penerimaan cukai. Ini karena konsumsi rokok mengalami kenaikan ketika musim pesta demokrasi.
"Revenue cukai naik cukup tinggi karena mungkin ketika kampanye orang beli rokok. Dalam berbagai meeting juga ada makanan dan rokok," ucap Chatib.
(hds/hds)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar